MLN, GEYA— Semangat gotong royong dan kebersamaan mewarnai pembangunan Kantor Klasis Geya Gereja Injili Di Indonesia (GIDI). Dukungan datang dari berbagai unsur masyarakat, mulai dari pemerintah, kepala kampung, aparatur sipil negara (ASN), TNI-Polri, anggota legislatif, pengusaha, hingga jemaat GIDI yang bersama-sama menggalang bantuan dana, material bangunan, serta janji iman demi terwujudnya pusat pelayanan gereja tersebut.
Gerakan bersama itu merupakan tindak lanjut dari rapat koordinasi yang digelar di Gereja Nangguli, Distrik Geya, pada Sabtu (18/7/2026). Pertemuan tersebut dihadiri para kepala kampung, kepala distrik, pejabat eselon II, III, dan IV, ASN, anggota TNI-Polri, pengusaha, serta kader GIDI.
Dalam rapat disepakati setiap kepala kampung memberikan dukungan minimal Rp20 juta, sedangkan kepala organisasi perangkat daerah (OPD) berkomitmen memberikan bantuan sedikitnya Rp50 juta. Namun, lebih dari sekadar besaran nominal, seluruh pihak memaknai kontribusi tersebut sebagai bentuk kasih, kepedulian, dan tanggung jawab bersama dalam membangun rumah pelayanan bagi umat.
Hasilnya, 12 kampung di Distrik Geya berhasil menghimpun dana sebesar Rp162,5 juta. Salah satu sumbangan terbesar berasal dari Kepala Kampung Geya, Negira Wanimbo, yang menyerahkan Rp30 juta. Sementara kepala-kepala kampung lainnya memberikan bantuan sesuai kesepakatan dan kemampuan masing-masing. Bahkan terdapat kepala kampung yang baru dapat menyerahkan Rp10 juta disertai komitmen untuk melunasi kekurangannya setelah memperoleh dana kampung dan berkat dari Tuhan.
Semangat serupa juga ditunjukkan 10 kampung di Distrik Wenam yang berhasil mengumpulkan bantuan sebesar Rp210 juta. Dengan demikian, total sumbangan dari 22 kampung di Distrik Geya dan Distrik Wenam mencapai Rp372,5 juta.
Bantuan tersebut diserahkan secara simbolis oleh para kepala kampung didampingi Kepala Distrik Geya Toni Weya, Kepala Distrik Wenam Benyamin Enambere, Pendamping Distrik Geya Buyan Weya, dan Pendamping Distrik Wenam Yoben Wenda di lokasi pembangunan Kantor Klasis Geya, Kampung Witipur, Jumat (31/7/2026).
Momentum tersebut menunjukkan bahwa pembangunan Kantor Klasis Geya tidak lagi menjadi tanggung jawab panitia semata, melainkan telah berkembang menjadi gerakan bersama yang lahir dari kesadaran dan kepedulian masyarakat.
Selain dukungan dari kampung-kampung, para kepala distrik juga menyampaikan komitmen pribadi melalui janji iman. Kepala Distrik Wenam Benyamin Enambere berkomitmen memberikan bantuan Rp50 juta. Dari jumlah tersebut, Rp30 juta telah diserahkan, sedangkan sisanya akan dipenuhi secara bertahap.
Komitmen serupa disampaikan Kepala Distrik Geya Toni Weya yang menyatakan janji iman sebesar Rp50 juta dan telah menyerahkan Rp10 juta sebagai tahap awal. Bagi keduanya, janji iman dipandang sebagai bentuk pengabdian kepada Tuhan sekaligus ungkapan syukur atas berkat yang diterima.
Dukungan terhadap pembangunan Kantor Klasis Geya juga datang dari Pemerintah Kabupaten Tolikara. Pada peletakan batu pertama pembangunan, Bupati Tolikara Willem Wandik, S.Sos., memberikan bantuan sebesar Rp100 juta.
Ketua Panitia Pembangunan Kantor Klasis Geya yang juga Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Tolikara, Derwes Yikwa, turut memberikan bantuan pribadi sebesar Rp50 juta. Sementara Kepala Dinas Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Tolikara Yonias Yikwa menyumbangkan Rp5 juta.
Kontribusi tidak hanya berupa dana, tetapi juga material bangunan. Anggota DPRK Tolikara Karmil Kogoya menyerahkan bantuan batu bata, sedangkan Anggota DPR Papua Pegunungan Timiles Yikwa memberikan bantuan keramik lantai.
Sejumlah pejabat eselon III juga berpartisipasi melalui bantuan kusen pintu dan jendela, di antaranya Kepala Bidang Dinas Kesehatan Karmel Kogoya, Kepala Bidang Dinas Kominfo Mailes Wenda, serta Kepala Bidang Dinas Pendidikan Vison Kogoya.
Bantuan lainnya datang dari Inspektur Pembantu Inspektorat Kabupaten Tolikara Boas Yikwa sebesar Rp10 juta serta ASN Kabupaten Tolikara Bedi Weya sebesar Rp500 ribu. Nilai bantuan yang beragam tersebut dinilai mencerminkan semangat kebersamaan, di mana setiap kontribusi memiliki arti penting bagi kelangsungan pembangunan.
Dalam rapat sebelumnya, para ASN Kabupaten Tolikara juga sepakat mengambil bagian dengan memberikan sumbangan minimal Rp3 juta sesuai kemampuan masing-masing. Kesepakatan tersebut memperlihatkan kuatnya kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan gereja dalam mendukung pembangunan fasilitas pelayanan keagamaan.
Ketua Panitia Pembangunan Kantor Klasis Geya Derwes Yikwa menyampaikan apresiasi dan rasa syukur atas seluruh dukungan yang diberikan berbagai pihak.
“Kami bersyukur kepada Allah karena dalam kemurahan-Nya Tuhan menggerakkan hati banyak orang untuk mengambil bagian dalam pembangunan Kantor Klasis Geya. Kami percaya setiap tangan yang memberi dan setiap hati yang berkorban merupakan bagian dari pekerjaan Tuhan,” ujar Derwes.
Menurutnya, pembangunan Kantor Klasis Geya tidak sekadar menghadirkan sebuah gedung, tetapi menjadi fondasi bagi pelayanan gereja di wilayah tersebut. Gedung itu diharapkan menjadi pusat pembinaan iman, tempat persekutuan jemaat, ruang pembinaan generasi muda, serta wadah memperkuat pelayanan GIDI di wilayah Geya dan sekitarnya.
Panitia masih membuka kesempatan bagi masyarakat, pemerintah, dunia usaha, maupun para dermawan untuk turut berpartisipasi dalam menyelesaikan pembangunan tersebut. Harapannya, Kantor Klasis Geya dapat segera difungsikan sebagai pusat pelayanan yang menghadirkan ruang bagi umat untuk beribadah, mempererat persaudaraan, serta membangun kehidupan iman secara berkelanjutan.
Semangat gotong royong yang ditunjukkan oleh 22 kampung bersama pemerintah, ASN, TNI-Polri, anggota legislatif, pengusaha, dan seluruh umat menjadi gambaran bahwa pembangunan rumah ibadah dapat menjadi titik temu kebersamaan lintas unsur masyarakat. Di balik setiap bantuan dana, material, maupun janji iman yang diberikan, tersimpan harapan agar pelayanan gereja semakin berkembang dan membawa manfaat bagi generasi mendatang. (Diskomdigi Tolikara)
