FER Tolikara 2026 Ditutup Meriah, Budaya dan Kasih Jadi Pesan untuk Generasi Muda

Kerohanian161 Views

MLN, Karubaga — Festival Etnik Religi (FER) Tolikara 2026 resmi ditutup di Lapangan Pendidikan Karubaga, Kabupaten Tolikara, Papua Pegunungan. Penutupan festival berlangsung meriah dengan parade budaya, pertunjukan musik, penampilan 150 ukulele pelajar, hingga atraksi paralayang yang menghiasi langit Karubaga.

Selama dua hari, 12–13 Agustus 2026, FER tidak sekadar menjadi ruang pertunjukan seni dan hiburan. Festival tersebut menjadi momentum bagi masyarakat, pemerintah, tokoh agama, pelajar, serta berbagai elemen masyarakat untuk merawat budaya sekaligus memperkuat nilai persaudaraan, keramahan, dan kasih dalam kehidupan sehari-hari.

Bupati Tolikara Willem Wandik, S.Sos mengatakan, kemeriahan festival seharusnya tidak berhenti ketika seluruh rangkaian acara berakhir. Menurut dia, FER harus menjadi pengingat bagi masyarakat untuk terus menjaga identitas budaya dan memperkuat hubungan antarsesama.

Bupati Willem Wandik menilai budaya tidak hanya tercermin melalui pakaian adat, tarian, musik, dan kesenian. Nilai budaya juga hidup dalam perilaku masyarakat, termasuk cara menghormati, menyapa, dan memperlakukan orang lain.

Ia mencontohkan kebiasaan masyarakat di wilayah Lapago, khususnya Tolikara, yang saling menyapa dan berjabat tangan ketika bertemu. Sapaan “Wa… Wa” menjadi bagian dari keramahan sekaligus bentuk penghormatan kepada sesama.

“Ini harus terus kita lestarikan. Di wilayah Lapago, khususnya di Tolikara, setiap kali kita berjumpa pasti saling bersalaman dan menyapa dengan ‘Wa… Wa’. Injil mengajarkan tentang kasih. Karena itu, melalui kegiatan seperti ini kita semakin memperkuat keramahan dan kasih kepada sesama,” ujar Bupati Willem Wandik.

Pesan tersebut menjadi salah satu ruh utama FER Tolikara 2026. Kemajuan pembangunan, menurut semangat festival, tidak boleh membuat masyarakat kehilangan jati diri dan nilai luhur yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Budaya dan kehidupan keagamaan juga dipandang dapat berjalan beriringan. Budaya menjadi identitas masyarakat, sementara iman diwujudkan melalui kasih, penghormatan, pelayanan, kepedulian, dan kehidupan yang damai.

Keterlibatan generasi muda menjadi bagian penting dalam festival tahun ini. Pelajar dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari TK, SD, SMP hingga SMA di wilayah Karubaga, tampil dalam sejumlah rangkaian kegiatan.

Mereka tidak hanya hadir sebagai penonton, tetapi menjadi pelaku dalam parade budaya, pertunjukan musik, dan berbagai kegiatan seni. Keterlibatan tersebut sekaligus menjadi ruang bagi anak-anak untuk mengenal dan mengekspresikan kekayaan budaya daerahnya.

Pelestarian budaya, kata semangat yang dibawa dalam festival itu, tidak dapat hanya dibebankan kepada generasi sekarang. Budaya perlu diperkenalkan sejak dini agar generasi muda memahami identitas, sejarah, dan nilai-nilai yang akan mereka wariskan kepada generasi berikutnya.

Sebagai bentuk penghargaan atas keterlibatan para pelajar, Pemerintah Kabupaten Tolikara memberikan uang pembinaan sebesar Rp10 juta kepada peserta yang turut menyukseskan festival. Bantuan tersebut diharapkan dapat menjadi motivasi bagi generasi muda untuk terus mengembangkan bakat sekaligus mencintai budaya daerah.

Kemegahan penutupan FER Tolikara 2026 juga ditandai Parade Budaya Nusantara yang melibatkan ratusan pelajar. Parade dimulai dari Lapangan Merah Putih, kemudian bergerak menuju Bandara Karubaga melalui Jalan Misi, melewati depan Kantor Polres Tolikara, dan berakhir di Lapangan Pendidikan Karubaga.

Sepanjang rute parade, jalan-jalan di Karubaga berubah menjadi ruang pertunjukan terbuka. Para pelajar menampilkan identitas budaya dengan penuh kebanggaan, sementara masyarakat dan tamu undangan menyaksikan rangkaian kegiatan tersebut.

Penampilan 150 ukulele yang dimainkan secara bersama-sama turut menciptakan suasana meriah. Musik yang dimainkan para pelajar itu menjadi gambaran tentang keberagaman yang dapat menghasilkan harmoni ketika dibangun dalam semangat kebersamaan.

Atraksi paralayang juga menjadi perhatian dalam penutupan festival. Kehadiran olahraga udara tersebut sekaligus menunjukkan potensi Tolikara yang tidak hanya berkaitan dengan budaya dan kehidupan religius, tetapi juga dapat dikembangkan melalui olahraga, kreativitas, dan pariwisata.

Dengan berakhirnya FER Tolikara 2026, panggung festival memang kembali diturunkan. Namun, nilai yang dibawa selama dua hari penyelenggaraan diharapkan tetap hidup dalam kehidupan masyarakat.

Semangat merawat budaya diharapkan terus tumbuh di rumah, sekolah, gereja, lingkungan masyarakat, hingga dalam penyelenggaraan pemerintahan. Demikian pula dengan kasih yang tidak berhenti sebagai pesan dalam sebuah festival, tetapi diwujudkan melalui sikap saling menghormati, membantu sesama, menjaga keamanan, menghargai perbedaan, dan membangun kehidupan yang damai.

FER Tolikara 2026 pada akhirnya tidak hanya meninggalkan kemeriahan pertunjukan, tetapi juga pesan tentang pentingnya menjaga identitas di tengah perubahan zaman. Budaya menjadi jati diri, iman menjadi kekuatan moral, dan persaudaraan menjadi fondasi untuk membangun masa depan Tolikara secara bersama-sama.

Festival Etnik Religi Tolikara 2026 pun resmi berakhir dengan harapan semangatnya terus tumbuh dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, sekaligus diwariskan kepada generasi Tolikara di masa mendatang. (Diskomdigi Tolikara)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *