MLN, Tolikara— Festival Etnik Religi (FER) Kabupaten Tolikara 2026 tak hanya menjadi ruang perjumpaan budaya, iman, dan kebersamaan masyarakat. Di balik kemeriahan festival, tumbuh pula semangat untuk menjadikan kreativitas masyarakat sebagai kekuatan baru dalam menggerakkan ekonomi daerah.
Lapangan Merah Putih Karubaga dalam gelaran festival berubah menjadi etalase produk ekonomi kreatif Tolikara. Beragam karya masyarakat dipamerkan, mulai dari batik bermotif buah merah dan kelapa hutan, kerajinan tangan, mahkota, lukisan, ukiran, hingga berbagai produk kreatif lainnya.

Produk-produk tersebut menunjukkan bahwa kekayaan Tolikara tidak hanya tersimpan di dalam tanah dan hutan. Potensi daerah juga hidup dalam ide, kreativitas, keterampilan, serta tangan masyarakat yang mampu mengolah kekayaan alam dan budaya menjadi produk bernilai ekonomi.
Salah satu produk yang mendapat perhatian adalah batik dengan motif khas Tolikara. Motif buah merah, kelapa hutan, anggrek Papua, serta perpaduan unsur budaya masyarakat pegunungan dan daratan dituangkan menjadi identitas visual daerah.
Bagi pelaku usaha, batik bukan sekadar kain atau pakaian. Setiap motif membawa cerita mengenai tanah, alam, budaya, dan kehidupan masyarakat Tolikara yang kemudian dikemas menjadi produk kreatif yang memiliki nilai jual.
Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) bersama Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Tolikara terus mendorong agar kekayaan budaya tersebut dapat dikembangkan menjadi produk bernilai tambah sekaligus membuka peluang usaha bagi masyarakat.

Salah satu langkah yang didorong adalah pemanfaatan batik bermotif khas Tolikara sebagai seragam resmi di lingkungan organisasi perangkat daerah (OPD). Kebijakan tersebut dinilai bukan semata persoalan pakaian, melainkan bagian dari upaya menciptakan pasar bagi produk masyarakat sendiri.
Dengan pemerintah daerah menjadi salah satu pengguna produk lokal, perputaran ekonomi diharapkan terjadi di daerah dan memberikan manfaat langsung kepada para pengrajin serta pelaku UMKM.
Bupati Tolikara Willem Wandik, S.Sos., saat mengunjungi stan TP-PKK dan Dekranasda, mengapresiasi kreativitas masyarakat yang ditampilkan dalam festival. Ia mengajak aparatur sipil negara (ASN) dan masyarakat untuk memberikan ruang lebih besar bagi produk lokal.
Menurut Willem, perkembangan batik Papua perlu terus didorong dengan menghadirkan motif yang mencerminkan kekayaan budaya dan alam masing-masing daerah.

Ia juga mendorong setiap OPD di lingkungan Pemerintah Kabupaten Tolikara memiliki batik dengan motif khas daerah.
“Dengan melihat tren baju batik Papua, tetapi juga baju bermotif budaya yang dibuat Dekranasda dan PKK Kabupaten Tolikara, kami berharap masyarakat dan ASN dapat membeli kain dan produk yang ada di sini. Ada beberapa motif khas Tolikara yang perlu kita kembangkan,” ujar Willem.
Menurut dia, membeli produk lokal berarti memberikan kesempatan kepada pengrajin untuk terus berkarya. Pada saat yang sama, aktivitas tersebut dapat menjadi sumber pendapatan bagi keluarga dan ikut menggerakkan roda perekonomian daerah.
Dorongan serupa disampaikan Wakil Bupati Tolikara Yotam Wonda, S.H., M.Si. Ia mengajak generasi muda asli Tolikara tidak berhenti sebagai penikmat karya, tetapi tampil sebagai pencipta.
Berbagai ukiran, lukisan, motif kain, mahkota, dan kerajinan yang dipamerkan dalam festival, kata dia, merupakan modal awal untuk membangun industri kreatif yang berbasis pada kekayaan budaya daerah.
“Anak-anak asli Tolikara harus bisa mencurahkan karya, ide, dan gagasan. Mari kita ukir sesuatu yang ada di daerah ini, baik budaya maupun kekayaan alam yang kita miliki, lalu kita lestarikan melalui karya,” kata Yotam.
Ia menilai, ekonomi masa depan tidak hanya dibangun melalui pemanfaatan sumber daya alam, tetapi juga melalui sumber daya manusia yang kreatif, inovatif, dan berani menciptakan produk bernilai jual.
Sebuah motif kain, ukiran, lukisan, mahkota, hingga secangkir kopi Tolikara, menurutnya, dapat menjadi pintu masuk bagi terciptanya lapangan kerja dan sumber pendapatan baru bagi masyarakat.
Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Tolikara Irsan Sambur, ST., mengatakan pemerintah daerah bangga melihat perkembangan produk UMKM lokal. Sejumlah produk dinilai memiliki peluang untuk dipasarkan lebih luas, termasuk ke pasar nasional.
Peluang tersebut, kata Irsan, mulai terlihat ketika produk Dekranasda dan TP-PKK Tolikara mengikuti pameran di Makassar. Berbagai produk seperti kerajinan tangan, batik, mahkota, dan produk kreatif lainnya mendapat perhatian masyarakat.
Pemerintah Kabupaten Tolikara melalui Dinas Koperasi dan UMKM berkomitmen memperkuat pendampingan kepada pelaku usaha melalui pembinaan dan pelatihan. Program tersebut akan dikolaborasikan dengan TP-PKK dan Dekranasda.
“Pemerintah daerah harus terus memberikan dukungan dan support kepada teman-teman UMKM untuk memajukan daerah ini. Dalam waktu dekat akan ada pelatihan-pelatihan yang kami kolaborasikan dengan PKK dan Dekranasda,” ujar Irsan.
Pelatihan tersebut diharapkan tidak hanya meningkatkan kemampuan produksi, tetapi juga memperkuat aspek kemasan, kualitas, pemasaran, branding, digitalisasi, hingga perluasan jaringan pasar.
Dengan dukungan tersebut, UMKM Tolikara diharapkan tidak berhenti pada kemampuan menghasilkan produk. Lebih jauh, para pelaku usaha dapat tumbuh menjadi bagian dari industri kreatif yang profesional, berdaya saing, dan berkelanjutan.
Festival Etnik Religi 2026 pada akhirnya bukan hanya panggung untuk merayakan budaya dan iman. Festival ini juga menjadi ruang untuk memperlihatkan bahwa karya masyarakat Tolikara memiliki peluang untuk bergerak dari pasar lokal menuju pasar Indonesia, bahkan membuka jalan untuk dikenal lebih luas di tingkat dunia. (Diskomdigi Tolikara)












