Rilis Buku “Anak Papua Bisa”: Dr. Imanuel Gurik Dorong Mimpi, Pendidikan, dan Perubahan dari Kampung untuk Papua

Tokoh, Berita680 Views

Papua, MLN — Anak-anak Papua memiliki mimpi yang besar, tetapi tidak selalu tumbuh dalam kondisi yang memberi mereka kesempatan yang sama untuk mewujudkannya. Pesan itulah yang menjadi gagasan utama Dr. Imanuel Gurik, S.E., M.Ec.Dev. melalui buku terbarunya berjudul Anak Papua Bisa: Mimpi, Pendidikan dan Perubahan, yang dalam waktu dekat akan rilis.

Buku setebal 200 halaman ini hadir bukan sekadar sebagai bacaan, melainkan sebagai refleksi sekaligus ajakan agar masyarakat Papua melihat pendidikan sebagai jalan penting untuk membangun masa depan generasi muda. Dengan semangat “Dari Kampung untuk Papua, dari Papua untuk Dunia”, buku tersebut menegaskan keyakinan bahwa tempat seorang anak dilahirkan tidak semestinya menjadi batas bagi cita-cita dan masa depannya.

Dalam buku ini, Dr. Imanuel mengangkat realitas anak-anak Papua yang tumbuh di berbagai wilayah, mulai dari pesisir, lembah, pegunungan, pulau-pulau kecil hingga kampung-kampung terpencil. Di tengah keterbatasan guru, buku, akses internet, fasilitas pendidikan, hingga jauhnya perjalanan menuju sekolah, mereka tetap memiliki mimpi untuk menjadi dokter, guru, insinyur, pilot, pengusaha, atlet, birokrat, peneliti maupun pemimpin.

Pesan utama buku itu sederhana, tetapi kuat: mimpi adalah awal, pendidikan adalah jalan, dan perubahan adalah tujuan.

Dr. Imanuel menempatkan pendidikan bukan semata-mata sebagai sarana memperoleh ijazah, tetapi sebagai proses membangun manusia. Pendidikan, menurut gagasan yang dibangun dalam buku tersebut, memungkinkan seseorang memahami persoalan, menemukan solusi, membangun karakter, sekaligus mempersiapkan diri untuk mengambil tanggung jawab yang lebih besar. Dalam konteks Papua, pembangunan manusia dinilai sama pentingnya dengan pembangunan infrastruktur karena ilmu pengetahuan membuka akses yang lebih luas terhadap masa depan.

Buku ini juga tidak menutup mata terhadap berbagai tantangan yang dihadapi anak-anak Papua. Sebagian harus berjalan jauh menuju sekolah, hidup dengan keterbatasan sarana pendidikan, atau meninggalkan keluarga sejak usia muda untuk melanjutkan pendidikan di kota lain. Namun, keterbatasan tersebut tidak semestinya menjadi alasan untuk berhenti bermimpi. Sebaliknya, pengalaman menghadapi kesulitan dapat menjadi modal untuk melahirkan generasi yang kuat, mandiri, dan tangguh.

Salah satu gagasan penting yang ditawarkan penulis adalah bagaimana pendidikan seharusnya bermuara pada pengabdian. Anak Papua yang memperoleh pendidikan tinggi diharapkan tidak berhenti pada pencapaian pribadi, tetapi membawa ilmu dan pengalaman itu kembali untuk memberi manfaat bagi masyarakat. Seorang dokter dapat melayani daerah yang kekurangan tenaga kesehatan, insinyur dapat membangun infrastruktur yang sesuai dengan kondisi Papua, guru dapat kembali mengajar di kampung, sementara ahli teknologi dapat membantu meningkatkan pelayanan publik dan digitalisasi.

Di sisi lain, buku Anak Papua Bisa juga mengingatkan pentingnya menjaga identitas. Kemajuan pendidikan dan penguasaan teknologi tidak harus membuat generasi muda Papua kehilangan budaya, bahasa, nilai kehidupan, maupun hubungan dengan kampung halaman. Penulis mendorong generasi baru Papua untuk memiliki dua kekuatan sekaligus, yakni ilmu pengetahuan untuk menghadapi masa depan dan identitas budaya sebagai akar kehidupan, yang diperkuat dengan iman.

Tanggung jawab membangun generasi Papua juga dipandang sebagai pekerjaan bersama. Orang tua, guru, gereja, pemerintah dan masyarakat memiliki peran masing-masing dalam memastikan tidak ada anak Papua kehilangan masa depan hanya karena lahir jauh dari pusat kota, berasal dari keluarga sederhana, atau tumbuh di daerah dengan keterbatasan fasilitas.

Perspektif jangka panjang menjadi salah satu bagian yang menarik dari buku ini. Dr. Imanuel mengajak pembaca membayangkan Papua dua puluh tahun mendatang, ketika anak-anak yang saat ini duduk di bangku sekolah kelak menjadi guru, dokter, pendeta, pengusaha, ASN, polisi, tentara, insinyur, akademisi dan pemimpin. Karena itu, ruang kelas hari ini dipandang sebagai tempat di mana wajah Papua masa depan sedang dibentuk.

Menariknya, buku ini tidak hanya berbicara kepada orang tua dan pemerintah. Pesannya secara khusus diarahkan kepada anak-anak Papua agar berani bermimpi setinggi mungkin, belajar dengan sungguh-sungguh, menjaga disiplin, menghormati orang tua dan guru, mengembangkan kemampuan, berani mencoba, serta tidak mudah menyerah ketika menghadapi kegagalan.

Sebagai penulis, Dr. Imanuel Gurik, S.E., M.Ec.Dev. merupakan akademisi dan birokrat yang membawa perspektif pembangunan manusia dalam gagasan bukunya. Ia merupakan alumnus Program Doktor (S3) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Cenderawasih, Jayapura, serta alumnus Program Magister Ekonomi Pembangunan (MEP) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Latar belakang akademik tersebut memperkuat perspektif penulis dalam melihat pendidikan, pembangunan manusia, dan masa depan Papua secara lebih luas.

Dalam proses penerbitan buku ini, Dr. Imanuel juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada sejumlah akademisi dan tokoh yang turut memberikan kontribusi intelektual. Prof. Dr. Mesak Ick, S.E., M.Si., Akademisi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Cenderawasih, memberikan kontribusi melalui tulisan Pengantar. Selanjutnya, Dr. Risky Novan Ngutra, S.E., M.Si., Akademisi FEB Universitas Cenderawasih, menulis Prolog, sementara Dr. Yosua Noak Douw, S.Sos., M.Si., M.A., turut memberikan pemikiran melalui Epilog.

Kehadiran ketiga tulisan tersebut melengkapi gagasan utama buku sekaligus memberikan sudut pandang yang lebih luas terhadap pesan yang ingin disampaikan penulis mengenai pendidikan, pembangunan manusia dan masa depan Papua.

Pada akhirnya, Anak Papua Bisa: Mimpi, Pendidikan dan Perubahan merupakan ajakan untuk melihat masa depan Papua melalui generasinya. Buku ini mengingatkan bahwa perubahan besar tidak selalu dimulai dari pusat kota atau gedung pemerintahan, tetapi dapat tumbuh dari ruang kelas sederhana di sebuah kampung.

Pesan penutup buku itu pun tegas: anak Papua punya mimpi, anak Papua harus mendapatkan pendidikan, anak Papua mampu berkarya, anak Papua mampu memimpin, dan anak Papua mampu membawa perubahan.

Karena itu, buku ini tidak hanya layak dibaca oleh anak-anak muda Papua, tetapi juga oleh orang tua, guru, pemerintah, gereja, akademisi dan siapa pun yang memiliki kepedulian terhadap masa depan Tanah Papua.

Anak Papua bisa. Mimpi, pendidikan, dan perubahan adalah jalan yang harus dipersiapkan sejak hari ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *