Dari Tolikara, Mahasiswa UNNUR Ikut Riset Drone Berbahan Serat Abaka

Pendidikan84 Views

BANDUNG, MLNS — Ellykison Yigibalom, mahasiswa asal Kabupaten Tolikara, Papua Pegunungan, mengambil bagian dalam pengembangan pesawat tanpa awak berbasis material biomassa yang dipamerkan Universitas Nurtanio (UNNUR) Bandung dalam Organisasi Riset Nanoteknologi dan Material (ORNM) Talk and Expo 2026.

Kegiatan yang diselenggarakan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) itu berlangsung di Grha Widya Bhakti, Kawasan Sains dan Teknologi (KST) B.J. Habibie, Serpong, Tangerang Selatan, pada 19 Agustus 2026. Kegiatan tersebut mengusung tema “Nanoteknologi untuk Solusi Negeri”.

UNNUR Bandung hadir dengan sejumlah hasil kolaborasi penelitian bersama Pusat Riset Biomassa dan Bioproduk (PRBB) BRIN. Salah satu hasil riset yang diperkenalkan adalah pengembangan material komposit berbasis biomassa untuk diaplikasikan pada teknologi Unmanned Aerial Vehicle (UAV) atau pesawat tanpa awak.

Wakil Rektor I UNNUR Bandung, Dr. Lies Banowati, S.T., M.T., mengatakan UAV dan quadcopter yang dipamerkan merupakan hasil kolaborasi penelitian PRBB BRIN dan UNNUR Bandung.

Menurut Lies, penelitian tersebut berfokus pada pengembangan material komposit berbasis biomassa yang dapat dimanfaatkan dalam teknologi penerbangan. Material biomassa tersebut kemudian dikombinasikan dengan nanofiller, antara lain karbon aktif, untuk mendukung pengembangan UAV.

“Keikutsertaan UNNUR Bandung dalam kegiatan ini menjadi momentum untuk memperkenalkan hasil kolaborasi riset antara PRBB BRIN dan Universitas Nurtanio Bandung sekaligus memperkuat sinergi dalam pengembangan material komposit berbasis biomassa dan aplikasinya pada teknologi UAV,” ujar Lies.

Beberapa prototipe yang dipamerkan dalam kegiatan tersebut di antaranya UAV-VTOL UNBRI (UNNUR-BRIN) X, UN (UNNUR) 21, serta quadcopter berbasis material komposit biomassa yang dipadukan dengan nanofiller karbon aktif.

Di balik pengembangan prototipe tersebut terdapat sejumlah mahasiswa Teknik Penerbangan UNNUR Bandung. Mereka adalah Arief Mediana Kadir, Ellykison Yigibalom, Ihramudin Tumulo, dan Ahmad Fahrul Rozi.

Bagi Ellykison, keterlibatan dalam proyek tersebut menjadi pengalaman penting dalam perjalanan akademiknya. Ia bersama tim mengembangkan drone dengan memanfaatkan serat abaka sebagai salah satu bahan utama.

“Kami membuat pesawat drone tanpa awak dengan bahan dasar serat abaka, kemudian dikombinasikan dengan carbon paper dan karbon aktif dari bambu,” kata Ellykison.

Penggunaan serat abaka dalam proyek tersebut tidak dilakukan secara langsung. Tim terlebih dahulu melakukan serangkaian penelitian untuk mengetahui karakteristik dan kekuatan material tersebut.

Pengujian serat abaka telah dimulai sejak September 2025. Penelitian kemudian dilakukan hingga awal 2026 sebelum material dinilai memiliki karakteristik yang sesuai untuk diaplikasikan pada pembuatan drone.

“Pengujian serat abaka sudah dimulai sejak September 2025. Kami mencari tahu kekuatan material tersebut sampai awal 2026. Setelah mendapatkan kekuatan yang sesuai, barulah kami mengaplikasikannya untuk pembuatan drone,” ujarnya.

Pembuatan prototipe UAV dimulai pada akhir Mei 2026. Hingga Agustus, proses pengerjaan telah mencapai sekitar 95 persen.

Setelah tahap pembuatan fisik selesai, tim masih harus melakukan pemasangan sistem, ground test, dan pengujian terbang untuk memastikan pesawat dapat beroperasi sesuai rancangan.

“Pembuatan pesawat sudah hampir selesai. Sekarang tinggal pemasangan sistem dan ground test, setelah itu dilanjutkan dengan pengujian terbang,” kata Ellykison.

Bagi Ellykison dan anggota tim lainnya, penelitian tersebut memiliki arti lebih dari sekadar proyek pengembangan teknologi. Proyek UAV itu juga menjadi bagian dari tugas akhir mereka di Program Studi Teknik Penerbangan UNNUR Bandung.

Ia menargetkan seluruh proses pengerjaan dapat diselesaikan pada akhir Agustus atau awal September 2026.

Ellykison menjelaskan, proyek tersebut bermula dari kerja sama antara BRIN dan UNNUR Bandung. Karena berkaitan dengan material komposit, mahasiswa kemudian dilibatkan dalam pengerjaannya.

“Karena proyek ini berkaitan dengan material komposit, kebetulan kami memiliki dosen Material Komposit, Ibu Lies Banowati. Dari situ proyek ini kemudian turun melalui kerja sama dengan kampus,” katanya.

Keterlibatan dalam penelitian UAV juga menjadi kelanjutan dari ketertarikan Ellykison terhadap dunia penerbangan. Sebelum kuliah di UNNUR, ia pernah mengikuti pendidikan penerbangan di salah satu sekolah penerbangan di Tangerang.

Ia bahkan telah menjalani pendidikan hingga tahap ground Private Pilot Licence (PPL). Namun, cita-citanya untuk melanjutkan ke tahap penerbangan harus tertunda karena kendala biaya.

Pada masa itu, ayahnya yang merupakan hamba Tuhan dan Gembala GIDI di Polomo, Sentani, meninggal dunia. Kondisi tersebut membuat Ellykison menghentikan pendidikan pilot dan sempat tidak melanjutkan pendidikan selama sekitar satu tahun.

Pada 2021, ia kemudian memutuskan kembali melanjutkan pendidikan tinggi. Kali ini, ia memilih Program Studi Teknik Penerbangan di Universitas Nurtanio Bandung.

Kini, setelah bertahun-tahun menempuh pendidikan, Ellykison berada di penghujung masa kuliah. Ia berusaha menyelesaikan tugas akhir sekaligus proyek UAV yang dikerjakan bersama tim.

Namun, perjalanan tersebut belum sepenuhnya mudah. Ellykison masih membutuhkan biaya untuk menyelesaikan studinya. Ia memperkirakan kebutuhan dana yang harus dipenuhi mencapai sekitar Rp60 juta.

Ia pun berharap Pemerintah Kabupaten Tolikara dapat memberikan dukungan agar dirinya dapat menyelesaikan pendidikan dan kelak membawa pulang pengetahuan serta pengalaman yang diperoleh selama belajar di Bandung.

“Saya sangat berharap Pemerintah Kabupaten Tolikara dapat membantu saya menyelesaikan studi. Surat permohonan sudah saya siapkan, tetapi belum saya kirimkan kepada Bapak Bupati dan Wakil Bupati Tolikara,” ujarnya.

Ellykison mengatakan, sebelumnya Pemerintah Kabupaten Tolikara pernah memberikan bantuan biaya pendidikan kepadanya. Namun, bantuan tersebut berhenti sebelum masa studinya selesai.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan biaya kuliah, ia kemudian bekerja sambil kuliah di sebuah warung milik keluarga Batak di Bandung. Keluarga tersebut bahkan turut membantu kebutuhan kuliah dan tempat tinggalnya dalam sejumlah kesempatan.

“Mereka sudah saya anggap sebagai keluarga. Walaupun saya dari Papua, mereka banyak membantu saya selama kuliah di Bandung,” tuturnya.

Perjalanan Ellykison dari Tolikara menuju Bandung kemudian membawanya pada pengalaman yang lebih jauh dari sekadar ruang kuliah. Ia terlibat dalam penelitian material biomassa, bekerja bersama mahasiswa dari berbagai daerah, dan ikut mengembangkan prototipe pesawat tanpa awak yang diperkenalkan dalam forum riset BRIN.

Di tengah keterbatasan yang dihadapinya, Ellykison kini berharap dapat menuntaskan pendidikan dan membawa pengalaman tersebut kembali ke Papua. Baginya, penguasaan ilmu penerbangan dan teknologi UAV dapat menjadi bekal untuk ikut membuka peluang pengembangan teknologi di daerah asalnya. (Nay)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *