TOLIKARA, MLNS – Pemerintah Kabupaten Tolikara melalui Dinas Pertanian dan Perikanan memperkuat strategi pengembangan budidaya ikan air tawar berbasis teknologi bioflok. Upaya ini dibahas dalam rapat koordinasi internal Bidang Perikanan yang berlangsung di Kantor Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Tolikara, Rabu (14/10/2026).
Rapat tersebut difokuskan pada penyusunan langkah strategis pelaksanaan aksi perubahan, mulai dari pemetaan potensi perikanan, pendataan pembudidaya, pemenuhan kebutuhan sarana produksi, hingga penguatan pemasaran hasil budidaya. Pengembangan sektor ini diharapkan dapat membuka peluang usaha sekaligus mendukung ketahanan pangan dan peningkatan pendapatan masyarakat.
Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Tolikara, Timotius Kogoya, S.E., menekankan pentingnya pendataan yang akurat dan tertib dalam pelaksanaan setiap program, terutama terkait penyaluran bantuan benih ikan kepada masyarakat.

Menurut dia, setiap bantuan harus disertai catatan yang jelas mengenai jumlah benih, jenis ikan, serta identitas penerima. Pendataan tersebut diperlukan untuk memastikan penyaluran bantuan tepat sasaran dan pelaksanaan program dapat dipertanggungjawabkan.
Ia juga meminta tenaga penyuluh memberikan pendampingan kepada masyarakat mengenai teknik budidaya yang sesuai, termasuk pengelolaan kolam dan pemisahan jenis ikan, seperti ikan mas dan ikan mujair, berdasarkan kebutuhan pemeliharaan.
Timotius menegaskan bahwa setiap kepala bidang harus memastikan pendataan dan pelaksanaan kegiatan berjalan sesuai tugas pokok dan fungsi masing-masing. Dengan demikian, program pengembangan perikanan dapat dilaksanakan secara terarah dan berkelanjutan.
Sementara itu, Bidang Perikanan yang dikoordinasikan oleh Yonatan Yikwa, S.E., M.Si., membahas sejumlah langkah konkret untuk mendorong pengembangan ekonomi masyarakat melalui budidaya ikan air tawar berbasis bioflok.
Pertemuan tersebut melibatkan pimpinan dan staf Dinas Pertanian dan Perikanan, tenaga penyuluh, serta perwakilan sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) dan mitra kerja. Peserta berasal dari Dinas Perdagangan, Koperasi dan UKM, Dinas Ketahanan Pangan, kepala distrik, kepala kampung, BPMK, Baperida, BPKAD, pengusaha dan pedagang ikan, serta kelompok tani.
Sejumlah agenda menjadi perhatian dalam pembahasan, antara lain pemetaan potensi budidaya ikan air tawar, kondisi kolam dan sarana prasarana, ketersediaan benih dan indukan, kebutuhan pakan, serta dukungan peralatan dan pembiayaan.

Selain aspek produksi, rapat juga membahas penguatan kelembagaan kelompok pembudidaya, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, pengelolaan hasil perikanan, serta perluasan akses pemasaran. Pembagian peran dan tanggung jawab antarpemangku kepentingan turut menjadi bagian penting agar pelaksanaan program berjalan secara terkoordinasi.
Teknologi bioflok menjadi salah satu alternatif yang dibahas untuk mendukung budidaya ikan air tawar yang lebih efisien. Penerapannya membutuhkan kesiapan sarana, keterampilan pembudidaya, pengelolaan kualitas air, serta pengawasan dan pendampingan teknis secara berkelanjutan.
Karena itu, sinergi antara pemerintah daerah, tenaga penyuluh, kelompok pembudidaya, pelaku usaha, dan pemerintah di tingkat distrik maupun kampung dinilai penting untuk memastikan program dapat diterapkan sesuai kondisi setempat.
Melalui koordinasi tersebut, Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Tolikara berharap pembahasan dapat ditindaklanjuti dengan rencana kerja yang terukur dan sesuai kewenangan masing-masing pihak. Pengembangan budidaya ikan air tawar diharapkan tidak hanya meningkatkan produksi perikanan lokal, tetapi juga memperluas kesempatan usaha dan memperkuat ketersediaan pangan bagi masyarakat Tolikara. (Diskomdigi Tolikara)







