Presiden GIDI Apresiasi TP-PKK Angkat Kekayaan Alam dan Budaya Tolikara Jadi Kekuatan Ekonomi Kreatif

Blog164 Views

MLN, Tolikara — Kekayaan alam dan budaya Kabupaten Tolikara mulai menemukan bentuk baru sebagai kekuatan ekonomi kreatif masyarakat. Hal itu terlihat dalam Festival Etnik Religi Tolikara 2026 yang menampilkan beragam produk lokal, mulai dari batik bermotif khas Tolikara, buah merah, kelapa hutan, anggrek Papua, ukiran, mahkota tradisional, hingga berbagai kerajinan dan produk olahan masyarakat.

Beragam karya tersebut mendapat apresiasi dari Presiden Gereja Injili di Indonesia (GIDI), Pdt. Usman Kobak, saat mengunjungi dan melihat langsung produk yang dipamerkan dalam Festival Etnik Religi Tolikara 2026.

Menurut Pdt. Usman, Tolikara memiliki kekayaan alam dan budaya yang luar biasa. Potensi tersebut, kata dia, merupakan anugerah Tuhan yang tidak hanya perlu dijaga, tetapi juga dikembangkan agar memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

“Bumi ini perbendaharaannya ada di Tolikara, karena Tuhan memberikan emas dan bunga anggrek seperti ini. Belum tentu ada di tempat lain,” ujar Pdt. Usman.

Ia juga mengapresiasi kreativitas masyarakat dan TP-PKK serta Dekranasda yang mulai mengangkat potensi lokal menjadi produk bernilai ekonomi. Penggunaan buah merah, kelapa hutan, motif budaya, dan berbagai unsur khas Tolikara dalam produk kerajinan dinilai dapat memperkuat identitas daerah sekaligus membuka peluang pasar yang lebih luas.

Menurut dia, kekayaan alam tidak seharusnya berhenti sebagai kebanggaan daerah. Potensi tersebut perlu diolah menjadi produk berkualitas, diperkenalkan kepada masyarakat luas, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Budaya, kata Pdt. Usman, bukan sekadar peninggalan masa lalu. Jika dikelola secara kreatif, budaya dapat menjadi modal ekonomi, sementara kreativitas masyarakat dapat membuka lapangan pekerjaan dan meningkatkan pendapatan keluarga.

Karena itu, produk lokal Tolikara diharapkan tidak hanya beredar di Karubaga. Dengan peningkatan kualitas, kemasan yang menarik, pendampingan usaha, serta strategi pemasaran yang lebih luas, produk masyarakat Tolikara memiliki peluang untuk menembus pasar Papua Pegunungan, nasional, bahkan internasional.

“Dari Karubaga menuju Papua Pegunungan, dari Papua Pegunungan menuju Indonesia. Bahkan bukan tidak mungkin suatu saat karya masyarakat Tolikara dikenal hingga pasar internasional,” demikian semangat yang mengemuka dalam festival tersebut.

Festival Etnik Religi Tolikara 2026 dinilai dapat menjadi momentum untuk membangun ekosistem ekonomi kreatif yang lebih kuat. Pemerintah melalui perangkat daerah terkait memiliki peran dalam memberikan pembinaan dan pendampingan kepada pelaku usaha, sementara TP-PKK dan Dekranasda dapat terus mendorong kreativitas masyarakat. Dukungan gereja juga penting untuk memperkuat nilai moral dan semangat kebersamaan dalam pengembangan ekonomi masyarakat.

Pada saat yang sama, masyarakat memiliki peran sebagai pelaku sekaligus konsumen produk lokal. Setiap pembelian produk karya masyarakat Tolikara pada dasarnya turut menggerakkan usaha kecil, menjaga keberlanjutan budaya, membuka peluang kerja, dan memperkuat ekonomi keluarga.

Di balik selembar kain batik terdapat ketekunan pengrajin. Di balik mahkota tradisional terdapat keterampilan dan pengetahuan budaya yang diwariskan antargenerasi. Di balik sebuah ukiran terdapat identitas dan sejarah masyarakat. Sementara dari hasil pertanian dan perkebunan, terdapat kerja keras petani yang menopang kehidupan keluarga.

Karena itu, pengembangan UMKM tidak semata-mata berbicara tentang perdagangan. Di dalamnya terdapat upaya membangun kemandirian ekonomi, menjaga warisan budaya, menciptakan lapangan pekerjaan, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Festival Etnik Religi Tolikara 2026 sekaligus menunjukkan bahwa kemajuan daerah tidak hanya ditentukan oleh pembangunan fisik dan infrastruktur. Kemajuan juga tercermin dari kemampuan masyarakat mengolah potensi daerah menjadi karya, meningkatkan nilai tambah produk, dan memasarkannya secara mandiri.

Buah merah, kelapa hutan, anggrek Papua, batik, ukiran, mahkota tradisional, kopi, serta berbagai produk kreatif lainnya berpeluang menjadi wajah baru perekonomian Tolikara.

Semangat itu sejalan dengan pesan Festival Etnik Religi Tolikara 2026: “Merawat Budaya, Menguatkan Iman, Membangun Tolikara.” Pesan tersebut menegaskan bahwa iman dan budaya dapat berjalan beriringan, sementara kekayaan alam dan kreativitas masyarakat dapat menjadi fondasi bagi tumbuhnya ekonomi daerah yang lebih mandiri.

Pada akhirnya, masa depan ekonomi Tolikara tidak hanya dibangun melalui kebijakan dan program pemerintah, tetapi juga melalui karya masyarakat yang terus tumbuh, dikembangkan, dan diberi ruang untuk menjangkau pasar yang lebih luas. (Diskomdigi Tolikara)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *